Achmatim ~ Harapan Terindah

October 22, 2005

Tempat Paling Jarang Hujannya

Tempat paling sedikit hujannya ada di Arica, Chile. Dalam setahun
rata-rata hanya mendapat 0,76 mm curah hujan. Setidaknya membutuhkan
waktu 100 tahun untuk memenuhi satu cangkir kopi.

October 1, 2005

Berbuat Baik

Filed under: Motivasi

Adalah Arman, seorang lulusan sebuah madrasah kota kecil di Jawa Timur.
Dengan penuh semangat dan harapan, pergilah dia ke Jakarta. Bayangan
semula, Jakarta adalah segalanya dan dia akan diterima dengan ramah,
diberi kedudukan sesuai dengan ketrampilan dan pendidikan yang telah ia
miliki.

Kenyataan lain. Benarlah bahwa sekejam-kejamnya ibu tiri masih lebih kejam
ibu kota. Dia terdampar di Jakarta dan terlibas tanpa ampun. Beruntung
seorang rekannya bersedia memberi sekedar tumpangan bila malam tiba untuk
melepas lelah setelah sehari berkeliling kota tanpa hasil.

Pasrah, itulah satu-satunya kata yang akhirnya ia ucapkan. Arman terdampar
di sebuah pasar di Jakarta Utara, menjadi buruh menurunkan sayur dan buah
dari mobil truk ke tempat kios-kios pedagang . Sekedar rupiah untuk
meneruskan hidup, cukuplah sementara baginya. Mau apa lagi ?

Suatu hari, menjelang tengah hari belum sepeserpun uang ia peroleh. Entah
mengapa, hari itu pasar sepi. Beruntung kemudian ada seorang ibu dengan
belanjaan cukup banyak memintanya untuk membantu membawa belanjaan ke
mobilnya. Lumayan, ia akhirnya punya uang untuk membeli sarapan. Sesaat
sarapan sudah ditangan, tinggal menyuap, datanglah seorang pengemis renta
dan tuna netra. ”Den, kasihani saya. Sudah dua hari tidak sesuap nasipun
saya makan” katanya memelas. Sejenak terjadi pertentangan batin antara ego
perut lapar dan simpati pada penderitaan orang lain. Entah ada kekuatan
dari mana, Arman langsung menyerahkan makanan di tangannya ke pengemis
tersebut. ”Terima kasih den, semoga Allah, Tuhan YMK membalas kebaikan
aden” demikian kata pengemis tersebut sambil berlalu.

Arman menitikkan air mata. Si penjual makanan melihatnya kemudian berkata
penuh penyesalan : ”Gimana sih, kamu ini. Dari pagi nggak dapet uang,
begitu dapet buat sarapan malah dikasih ke orang. Pengemis begitu memang
pekerjaannya. Buat apa kita kasihan sama mereka”. Tanpa peduli kata
penjual makanan, Arman menengadahkan tangannya ke atas, berdoa : ”Ya Allah
Yang Maha Kasih. Segala puji bagiMu yang telah memberikan padaku kekuatan
untuk berbuat baik”.

Benar-benar satu fenomena menarik. Di jaman dengan situasi seperti ini, di
mana materi sudah serasa menjadi ”tuhan”, diperjuangkan dengan penuh
ketamakan, tanpa peduli keberadaan orang lain, semangat berbuat baik sudah
semakin jauh. Dengan demikian, fenomena di atas bisa jadi merupakan barang
langka. Kata anak-anak sekarang “Hare gene, masih mau nolong orang ?”
Mungkin juga hal tersebut berbeda dengan fenomena kebersegeraan orang
untuk mengulurkan tangan di saat terjadi bencana. Di saat bencana, memang
sangat mungkin untuk sesaat kita membuat refleksi, nama Allah, Tuhan YMK
disebut-sebut dengan sangat intensif, walaupun seiring berjalannya waktu,
hal tersebut memudar.

Tetapi fenomena Arman berbeda. Keberadaan pengemis bukan sesuatu yang
mampu menghentak nuansa hati manusia umumnya. Sehingga yang hatinya
terketuk, pastilah bukan manusia biasa. Apalagi dia juga bukan orang yang
berkecukupan.

Nah, di saat Ramadhan menjelang, fokus bahwa salah satu makna puasa adalah
mengajar kita agar mampu merasakan penderitaan orang lain, memang sangat
tepat. Berbuat baik yang dipicu oleh rasa syukur kepada Allah, Tuhan YMK,
adalah kaidah dasar perilaku manusia yang harus terus dipupuk, kalau kita
tidak ingin kehilangan hakikat kita sebagai ciptaanNya yang paling
sempurna.

tdw

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main