Achmatim ~ Harapan Terindah

December 31, 2005

Dari 2005 Menuju 2006

Filed under: Personal

Selamat Tahun Baru 2006

2005

Banyak yang telah terjadi. Banyak hal yang tak terlupakan. Banyak hal yang terlupakan. Suka dan duka, senang dan sedih, tawa dan tangis silih berganti. Sungguh indah warna hidup dan kehidupan ini. Alloh telah memberikan yang terbaik.

- 30 Januari : Sidang skripsi
- Februari : Tour de Java bareng Ferdy & Putut. Sempet jalan-jalan ke Benteng van Der Wijk & Gua Jati Jajar bareng Ferdy, Putut dan Otim. Pertama kali dia mau diajak jalan-jalan.
- 23 Maret : Otim ulang tahun.
- 2 April : Pulang lagi jemput orang tua. Otim gak jadi ikutan
- 8 April 2005 : Wisuda di JHCC
- 3 Mei : Terima SK sebagai karyawan dan dosen tetap UBL
- 25 Mei – 25 Juni : Bersihkan niat, yakinkan diri dengan puasa
- 1 Juni : Terima gaji pertama
- 5 Juni : Ulang tahunku ke-23
- 24 Juni : Proposal kembali diajukan ke dia.
- 25 Juni : Dateng ke wisudanya otim
- 28 Juni : Lewat email, komitmen pertama terucap
- Agustus : Tour de Java bareng Dedex dan Iwank. Sempet jalan-jalan ke Baturaden bareng Otim juga.
- 27 Agustus : Ikutan tour karyawan ke Bandung
- 22 Oktober : Wisuda kakakku, ano dan zhay
- November : Hari Raya Idul Fitri. Pulang ke rumah, banyak acara yang diikuti.
- 5 Desember : Akhirnya mulai ngekost kembali

2006

Banyak yang telah terencana. Banyak hal yang ingin dilakukan dan diperbuat. Banyak angan dan cita telah dirancang. Semoga Alloh memberikan yang terbaik.

- Bekerja lebih giat
- Beli kamera digital
- Beli HP buat adik
- Program e-learning selesai dan bisa diterapkan di kampus
- Beli motor
- Melanjutkan S2
- Khitbah

December 29, 2005

Doaku Suatu Malam

Filed under: Personal

Ya 4JJI, berilah petunjuk padaku dan padanya selalu.
Dan jikalau memang dia adalah jodohku,
maka permudah jalan kami Ya 4JJI,
jalan menuju waktu-Mu.
Amin

December 27, 2005

Pernahkah Anda Naik KRL ??

Filed under: General, Personal

Hari Sabtu sore, 24 Desember 2005, cuaca cukup cerah saat aku memutuskan untuk pergi ke tempat temenku di Bekasi, tepatnya di daerah Kranji. Berangkat jam setengah lima sore lebih. Jalur ke Blok-M tidak begitu macet, jadi jam 17:15 sudah nyampe Blok-M. Untuk menuju ke tempat temenku-itu, dari terminal Blok-M, ada beberapa jalur yang bisa dipilih. Kita bisa naik P27 yang mengambil rute lewat Bekasi Timur dan berakhir di terminal Bekasi. Kita juga bisa naik AC05 yang melewati Tol Bekasi Barat dan berakhir di terminal Bekasi. Selain menggunakan bis, kita juga bisa naik Busway dari Blok-M dan turun di Stasiun Jakarta Kota. Dari stasiun Kota naik KRL menuju Bekasi. Kali ini, aku memilih jalur ketiga dengan naik Busway dan diteruskan naik KRL. Turun di Stasiun Kranji.

Pengalaman naik kereta, khususnya KRL, bagi masing-masing orang mungkin berbeda. Ada yang sudah terbiasa, bahkan sehari-hari. Ada yang baru sekali. Tapi ada juga yang belum pernah sama sekali (mungkin termasuk Anda ??).

Berikut ini, beberapa hal yang mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan saat Anda akan naik KRL (atau kereta pada umumnya) :

Pertama. Anda harus tahu tujuan KRL dan juga di stasiun mana saja KRL akan berhenti. Juga berada di jalur berapa Anda harus menunggu kereta. Untuk di stasiun Kota, biasanya KRL Ekonomi bisa ditunggu di jalur 4, tapi untuk lebih jelasnya bisa tanyakan ke petugas. Selain, tujuan kereta, Anda juga harus tahu jadwal keberangkatan kereta. Untuk KRL Ekonomi Jakarta-Bekasi dari pukul 05.00 - 19.00 dalam selang waktu 45 menit sekali terdapat satu pemberangkatan. ANda bisa bertanya kepada petugas atau bisa melihat di papan jadwal pemberangkatan kereta. Informasi tujuan dan jadwal KRL dan kereta pada umumnya bisa dilihat di sini

Kedua. Anda harus tahu kalau naik KRL itu butuh tiket. Tiket kereta KRL bisa dibeli di loket yang sudah tersedia di stasiun. Biasanya tiket KRL bisa dibeli sekitar 30 menit sebelum keberangkatan kereta. Harga tiket KRL Ekonomi cukup murah, hanya Rp. 1.500,- untuk jalur Jakarta - Bekasi. Tiket kereta juga harus dibawa saat ANda naik kereta, karena tiket akan diperiksa oleh petugas di tengah-tengah perjalanan. Akan tetapi, sebenarnya pemeriksaan tiket oleh petugas tersebut juga tidak begitu ketat, jadi tanpa tiket pun plus modal tampang garang atau memelas, Anda bisa terlepas dari pemeriksaan tiket. Bahkan, dalam taksiran saya, sekitar 30% penumpang KRL Ekonomi adalah penumpang tanpa tiket, itu belum termasuk pedagang.

Ketiga. Hati-hati saat akan naik atau turun kereta. Kenapa? Karena sangat ramai, terutama saat pagi dan sore hari, saat jam pergi dan pulang kerja. Sebagian pengguna jasa KRL Ekonomi adalah karyawan dan pelajar. Kalau Anda tidak hati-hati, bisa-bisa Anda bisa tergencet atau bahkan terjatuh.

Keempat. Pilih tempat duduk (jika ada) atau tempat berdiri yang nyaman dan aman. Pilihlah tempat yang dekat dengan orang-orang baik, atau setidaknya yang terlihat baik, misalnya di dekat ibu-ibu, dekat karyawan yang terpelajar, dekat cewek berjilbab, dan sebagainya.

Kelima. Sediakan selalu uang pecahan. Untuk apa sih? Di dalam KRL, sepanjang perjalanan, Anda akan menemui banyak sekali pekerja kereta (=pengamen) dalam berbagai rupa dan bentuk serta dengan berbagai alat musik. Ada yang memakai gitar, kendang, dan bahkan ada yang hanya bermodalkan sapu. Lho kok bisa? Coba buktikan saja sendiri. Saran saya sih, sebaiknya Anda beri seratus-lima ratus buat mereka. Selain untuk beramal, juga demi keselamatan Anda.

Keenam. Jaga emosi. Terutama jika berhadapan dengan pekerja kereta dan pedagang. Ohya, di kereta biasanya bermacam barang dagangan yang ditawarkan. Mulai dari makanan sampai minuman, mulai dari gantungan hp sampe gantungan kunci, mulai dari pulpen hingga mainan. Harganya? Harganya rata-rata lumayan murah, bahkan terkadang lebih murah dari harga toko. Akan tetapi, Anda harus ekstra hati-hati. Telitilah sebelum membeli, jangan sampai Anda kecewa dengan barang yang Anda beli. Jika Anda beli makanan, periksa keaslian dan masa expired-nya. Juga, tanyakan dulu harganya sebelum memutuskan sebelum membeli. Jangan pernah mengumpat atau mengomel atau memaki-maki pedagang, karena akibatnya bisa fatal. Mereka tidak berdagang sendirian di kereta. Mereka punya banyak temen. Pernah suatu saat saya naik kereta, seorang penumpang di seberang tempat duduk saya memaki pedagang. Akibatnya, setiap ada pedagang lewat, selalu saja penumpang tadi jadi sasaran umpatan.

Ketujuh
. Intinya jangan sok. Jangan sok jago, jangan sok pinter, jangan sok kaya, dan jangan sok-sok yang lainnya. Bersikaplah ramah dan sopan. Nikmati perjalanannya dan Anda akan selamat sampai tujuan.

Semoga ketujuh hal tersebut bermanfaat bagi Anda yang belum pernah dan ingin naik KRL Ekonomi atau kereta pada umumnya.

December 21, 2005

Nickname dari Waktu ke Waktu

Filed under: Personal

Jika Anda seorang yang sering berkunjung atau familiar dengan internet, tentunya Anda sudah tidak asing lagi dengan istilah ‘nickname’. Nickname merupakan nama panggilan singkat dari seseorang. Nickname biasanya diambil dari nama lengkap orang yang bersangkutan. Nickname juga biasanya mempunyai arti khusus bagi pemiliknya, bisa mencerminkan kegemaran, hobby, peristiwa khusus, orang yang dikasihi, dan hal-hal khusus lainnya.

Dalam dunia internet, nickname diantaranya dipakai sebagai identitas saat melakukan chatting, berdiskusi di sebuah forum diskusi, mendaftar ke sebuah situs, sebagai nama email dan sebagainya. Selain di dunia internet, nickname juga terkadang digunakan di dunia nyata. Bisa digunakan pada tanda tangan, artikel di majalah, nama pena pada cerpen atau buku, dan bahkan pada kartu nama.

Bagiku, nickname merupakan hal khusus yang punya arti dan maksud tertentu. Berikut ini, nickname yang pernah saya gunakan :

1. sh001
Nickname ini merupakan nickname pertama yang saya gunakan. Tapi saat pertama kali saya gunakan, saya justru belum mengenal sama sekali istilah nickname. Awalnya, dulu saat saya masih sekolah di MI (setingkat SD), temen-temen banyak yang punya singkatan nama di belakang nama utamanya, seperti Agus MR. “Wah..keren juga tuh…mau juga ahh“, pikirku saat itu. “Tapi pake nama apa yach??hmm…kan namaku Achmad Solichin, kalo pake Achmad S, kayaknya kurang keren…“. Akhirnya saya pake singkatan SH yang merupakan singkatan dari SolicHin. Sehingga sering saya menuliskan nama dengan “Achmad Sh“.

Selanjutnya, arti dari SH ini sedikit bergeser saat saya “bersimpati” dengan seorang temen satu sekolahan di MI, yang kebetulan namanya berawalan huruf “H“. Jadinya, “SH” artinya menjadi Solichin-H****. Saya dan dia sering belajar bareng dan juga sering main bareng, terutama di sekolahan atau di mushola. Banyak juga temen-temen lain yang sering “menuduh” kami. Hehe2x…. Di SMP, saya masih satu sekolahan sama si H itu, dan saya juga masih bersimpati sama H. Terkadang kami juga berangkat dan pulang sekolah bareng. Oleh karena itu, saya masih mempertahankan “SH” menjadi nickname saya. Akan tetapi, setelah satu cawu di SMP, nickname saya tambah menjadi “SH001“. Tambahan “001” awalnya sih karena nomor absensi saya di kelas selalu nomor 1 (nama depan saya kan Achmad), tapi selanjutnya juga berarti sebuah harapan agar S dan H bisa bersatu dan bersama. Hanya berupa harapan yang masih terpendam. Dan sangat lama. SH001 saya pakai cukup lama, bahkan sampai lulus SMA.

Setelah lulus SMA, si H menikah dengan seseorang, sehingga harapan yang pernah bersemi di hati ini saya kubur dalam-dalam. Tapi saya akan tetap memakai SH001 sampai saya menemukan “nickname” yang baru. Bahkan, beberapa email yang saya buat dan masih aktif sampai sekarang, seperti sh001_honey@yahoo.com dan sh-001@plasa.com. SH001 juga masih digunakan untuk username di beberapa website dan forum diskusi, seperti di http://www.diskusiweb.com

2. MSc
Nickname ini sempet saya “lirik” setelah kehilangan sh001, hanya saja tidak bertahan lama. Nickname ini pertama kali digunakan untuk mengirim kritik dan saran di web lab MITI. Seperti sh001, MSc juga ada artinya. MSc merupakan singkatan dari M****** - Solichin. M adalah seorang guru fisika di SMA, seorang ibu, yang begitu mengasihi dan menyayangiku, menjadi sumber inspirasi dan semangatku, bahkan sudah saya anggap seperti ibu sendiri. Nickname ini menjadi salah satu bentuk penghormatanku padanya.

3. AchmA
Menggunakan nickname MSc lama-lama risih juga, pasalnya MSc kan singkatan gelar untuk Master of Sience. SKom aja belum masa sich udah MSc? Saya berfikir untuk mengganti nickname lain. Saya ingin nickname saya mencerminkan diri saya sendiri, pribadi saya sendiri, identitas saya sendiri, yang mungkin lagi sendiri. Akhirnya kupilih nickname “Achma” yang diambil dari nama depanku, Achmad, dengan menghilangkan huruf “d“. Kenapa musti dihilangkan? Gak tau, suka aja dengan “Achma“. Nickname ini sempet saya pakai sebagai nama di jaket lab generasi pertama. “Achma” juga dipakai untuk user di webkom. Bagi temen-temen angkatan 2002 dan 2003, mungkin saya lebih dikenal dengan nickname ini.

4. Achmatim
Achmatim merupakan nickname terakhir dan yang saya gunakan saat ini. Saya hanya menambahkan “tim” dari nickname sebelumnya. “tim” sendiri mewakili seorang sahabat, seorang teman, seorang yang selalu ceria, seorang yang selalu memberi motivasi dan inspirasi, seorang bernama “Chotimatul Musyarofah“. Achmatim dari persahabatan terindah hingga harapan terindah. Semoga nickname ini mendapat restu dari-Nya dan terpenuhi harapan terindah di hati ini.

December 15, 2005

Kepedulian : Masihkah Kita Punya ?

Filed under: Motivasi, Personal

Ya…. kepedulian, satu kata sederhana yang mewakili sebuah sikap dimana seseorang mencoba memahami dan mengerti suatu keadaan untuk selanjutnya melakukan tindakan (action) nyata sesuai dengan keadaan tersebut. Keadaan dalam hal ini, bisa berupa keadaan seseorang maupun keadaan lingkungan. Ada banyak contoh berhubungan dengan sikap kepedulian ini, diantaranya sikap seseorang yang melihat temennya sedang kesulitan membawa barang belanjaannya lalu segera menawarkan bantuan untuk membantunya. Atau sikap seseorang yang melihat suatu musibah (banjir, gempa, dsb) kemudian berusaha mengumpulkan bantuan yang diserahkan pada orang-orang yang terkena musibah tersebut.

Pagi ini, iseng-iseng saya ingin mengetahui tingkat kepedulian temen-temen di Labkom UBL terutama kepedulian terhadap kebersihan dan kerapihan lingkungan, dengan melakukan sebuah test case kecil. Saya sengaja mengumpulkan semua gelas kotor_yang memang berserakan di berbagai tempat_ di dapur lab. Tadinya mau langsung saya cuci seperti biasa, tapi gak jadi, karena saya harus meng-gost beberapa komputer di lab D3 Unggulan. Saya tinggalkan saja gelas-gelas teronggok tak berdaya di wastafel. Dan akan saya lihat sampai siang harinya (kebetulan saya ngajar jam 09.45 di Lab), apakah ada yang peduli dengan onggokan gelas ini atau tidak.

Siangnya, dari FTI saya sengaja pergi ke lab lebih awal 15 menit. Sampai di lab, langsung aja menuju ke dapur, dan ternyata gelas-gelas yang teronggok di wastafel tadi pagi masih tetap di tempatnya. Bahkan sedikit tambah berantakan. Padahal temen-temen supervisor, assisten, dan calas sudah banyak yang dateng. Ya… think positive sih, mungkin kebetulan lagi pada sibuk semua, atau kebetulan blum ada yang masuk ke dapur, atau memang masalah gelas ini memang terlalu sepele untuk dikerjakan. Saya pun hanya bisa menghela napas lebih dalam dan tersenyum simpul. Mencoba mengerti, memang temen-temen punya tugas yang lebih penting kok.

Saya lirik jam di tangan, “Ah, masih ada waktu sebelum ngajar”, pikir saya. Langsung tanganku bergerilya membersihkan semuanya. Pintu dapur saya tutup. Di tengah-tengah kegiatan (atau kebiasaan?) yang diam-diam saya nikmati ini, beberapa calas-yang-saya-tidak-tau-namanya sempet masuk ke dapur, ngambil sesuatu di lokernya dan langsung keluar lagi, tanpa meninggalkan komen apapun. Sudah hampir selesai, tiba-tiba salah satu temenku masuk ke dapur dan komentar “Lho…kok bang lihin ?!? Nyuci piring ?!”. Saya jawab sekenanya aja, “Nggak…”. “Oh, nyuci gelas yach, hehe..hehe..”, timpal temenku-itu. Saya pikir selanjutnya temenku-itu akan menawarkan bantuan, tapi ternyata temenku-itu langsung ngeloyor pergi. Kuteruskan saja pekerjaanku.

Setelah selesai dan rapi langsung menuju ke lab-08. “Ngajarin apaan yach?”, gumamku. Masih tersisa pertanyaan di hati, “Masihkah kita punya sedikit kepedulian?”. Memang, test case diatas belum bisa mewakili kondisi yang sebenarnya secara macro. Tapi, setidaknya secara micro sudah mewakili bagaimana tingkat kepedulian kita terhadap lingkungan. Jika dari hal yang kecil aja sudah tidak peduli, apalagi terhadap hal-hal lain yang lebih besar. Atau memang idiom ini sekarang sudah bergeser? Bukan hal-hal kecil yang kita pedulikan, tapi hanya hal-hal yang besar saja yang akan kita pedulikan ? Mungkin kita sudah menganggap bahwa masalah kebersihan ruangan, sampah yang berserakan di lantai, sisa air minum yang tergeletak di meja, kertas yang berserakan di meja, dsb, merupakan hal kecil. Masih banyak hal-hal besar yang perlu diperhatikan, semisal masalah Aceh dan musibah lainnya. Mungkin…mungkin….. dan mungkin… Tapi, bukankah hal besar muncul dari hal-hal kecil ??

So, masihkah kepedulian itu ada ??

Bukan Titik

Filed under: Love

Bukan titik yang menyebabkan tinta,
tapi tinta yang menyebabkan titik.
Bukan cantik yang menyebabkan cinta,
tapi cinta yang menyebabkan cantik

December 11, 2005

Pameran Buku Indonesia 2005

Filed under: Personal

Seperti telah direncanakan, kemarin (10/12/2005) saya dan beberapa temen dari Lab jalan-jalan ke Pameran Buku di JHCC. Acara ini merupakan acara tahunan dan tahun ini bertajuk “THE 25th INDONESIA BOOK FAIR” dan bertemakan “Aceh : The Rise of Aceh“. Acara ini digelar dari tanggal 7 hingga 11 Desember 2005.

Pameran diikuti oleh berbagai penerbit buku terkenal, seperti Mizan, Elex Media Computindo, Gramedia, Syaamil dan Erlangga. Tema buku yang ditawarkan juga beragam, mulai dari cerpen remaja, buku anak, buku agama, novel, sampai buku-buku pelajaran. Yang menarik dari pameran buku kali ini (dan juga di pameran-pameran lainnya tentu) adalah diskon harga yang diberikan. Pada pameran buku ini, setiap stand memberikan diskon yang berkisar antara 10% hingga 50% untuk setiap buku. Bahkan ada yang memberikan diskon hingga 70%.

Saat kami sampai di pameran (sekitar pukul 15:30) tampaknya lagi rame-ramenya. Pengunjung cukup banyak memenuhi area pameran. Setelah sholat Ashar, kami langsung berkeliling ke setiap stand pameran. Masing-masing dari kami sibuk mencari buku-buku yang disuka. Lucunya, karena saking ramenya kali, seorang-temen-kami salah panggil orang, seorang-temen-kami itu memanggil-manggil seorang pengunjung dengan nama saya. Untung temen-kami-yang-satunya menyaksikan hal itu dan langsung mengingatkan. Setelah kami semua diceritain, tak bisa tidak, seorang-temen-kami itu langsung jadi bahan becandaan (=tertawaan). Hihi, maaf…

Kami sudah lelah berkeliling dan masing-masing dari kami udah menenteng beberapa buku di tangan, kecuali temen-kami-yang-satunya yang gak beli buku satupun. Kami keluar pameran tepat saat azan maghrib berkumandang. Selanjutnya kami sholat di musholla-yang-sumpek-dan-panas-karena-berada-di-sebelah-dapur-kantin.

Saya sendiri berhasil memborong 6 (enam) buah buku (banyak yach..?) yang kebanyakan adalah kumpulan cerpen dan cerita motivasi

Doa Kecil Dalam Hati Gue Menyisir Rindu Aku Ingin Menjadi Istrimu Setengah Isi Setengah Kosong Kalam Hikmah Imam Syafi\'i

1. Doa Kecil dalam Hati Gue
Kumpulan Cerpen karya Asma Nadia dan Boim Lebon ini cukup menarik perhatianku untuk membelinya. Termasuk kategori fiksi remaja dan diterbitkan oleh penerbit Syamil. Buku ini sudah selesai saya baca lo… hehe20x

2. Cermin dan Malam Ganjil
Yang ini juga kumpulan cerpen bersama dari FLP (Forum Lingkar Pena). Pengarangnya antara lain Asma Nadia, Izzatul Jannah, Gola Gong dan Pipiet Senja. Buku kumpulan cerpen ini konon dipersembahkan dan didedikasikan untuk Yussakh Ananda, seorang sastrawan Indonesia era tahun 50-an.

3. Menyisir Rindu
Memang saya tertarik pada buku ini karena pengarang utamanya adalah Asma Nadia, disamping belum pernah melihatnya di Gramedia atau toko buku lain. Buku ini juga kumpulan cerpen yang dari back cover-nya berkisah seputar Cinta dan Perempuan. Selain Asma Nadia, juga terdapat pengarang lain seperti Fahri Asiza, Pipiet Senja, Issatul Jannah, dsb

4. Aku Ingin Menjadi Istrimu
Buku kumpulan cerpen yang satu ini memang sudah menjadi incaranku setiap ke toko buku. Pengarang utamanya Asma Nadia dan Birulaut. Tema ceritanya Pernikahan (ciye….yang lagi pengin nikah). Buku ini diterbitkan oleh Lingkar Pena Publishing

5. Setengah Isi Setengah Kosong
Berbeda dengan empat buku sebelumnya, buku yang satu ini bukan cerpen atau novel, dan bukan bertemakan remaja, cinta atau pernikahan. Buku ini berisi kisah-kisah Inspiratif Sarat Hikmah untuk Bisnis dan Karier. Buku yang diterbitkan oleh MQS Publishing ini cukup membuatku tertarik, salah duanya karena pengantar disampaikan oleh Aa Gym dan salah satu cerita yang saya baca secara random cukup menarik. Buku ini dikarang oleh Parlindungan Marpaung, seorang Inspiring Trainer

6. Kalam Hikmah Imam Syafi’i
Buku ini kurang lebih mengisahkan tentang nasehat dan hikmah yang disampaikan oleh seorang ulama besar, pendiri mazhab Syafi’i, yakni Imam Syafi’i karomallohuu wajhah

Saatnya baca buku……

December 10, 2005

Asma Nadia : Tidak Pede Membawa Nikmat

Filed under: Motivasi, Resensi

Asma NadiaTahun 80-an, hampir semua kota besar di tanah air dibanjiri buku-buku cerita tentang akhirat. Buku itu menceritakan orang yang masuk neraka. Ia dibakar dengan api sangat panas atau ditusuk pedang tajam. Banyak yang takut dan ngeri membacanya, termasuk seorang bocah kelas satu sekolah dasar, Asmarani Rosalba, yang kini dikenal dengan nama pena Asma Nadia.

Karena Iseng-iseng membaca buku jenis itu, Rani, panggilan bocah perempuan itu, merasa takut, hingga terbawa ke tidurnya. Suatu malam, Rani bermimpi seram. Gadis kecil itu terkaget, kemudian terbangun. Segera diambilnya bantal untuk menutup wajahnya.

Tanpa sengaja, gerakan cepat itu menyebabkan bagian belakang kepala Rani terbentur besi kasur. Dia pun geger otak dan harus mengalami perawatan. Setelah sembuh, Rani kembali sekolah. Uniknya, dia terus mendapat peringkat satu hingga SMA. Sebelumnya, Rani berada di peringkat kedua.

Beranjak remaja dan memasuki masa kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), Rani harus terus berobat. Karena dampak dari benturan saat kelas satu SD itulah, Rani terpaksa berhenti dari IPB. Saat itu dia berada di tingkat dua jurusan mekanisasi pertanian.

Keluar dari kampus, tidak membuat gadis yang lahir di Jakarta, 26 Maret 1972 itu putus asa, apalagi minder. Dia mencoba mengembangkan bakat terpendam: menulis cerpen dan novel. Kini Rani tampil sebagai penulis fiksi ternama di tanah air. Sebagai penulis, orang lebih mengenalnya sebagai Asma Nadia.

Karya-karya Asma banyak dijumpai di toko-toko buku di Indonesia. Tidak kurang dari 20 buku berisi cerpen dan novel telah beredar. Tidak mengherankan jika penerbit sekelas Mizan menganugerahi ibu dua anak itu sebagai ‘’Pengarang Fiksi Remaja Terbaik 2003′’ dan berhak meraih Mizan Award.

Belum lagi, buah ciptanya pernah mendapat penghargaan dari Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) dan majalah Ummi. Oleh karena itu, Asma yang konsisten mengusung cerita-cerita fiksi bernapaskan Islam (dia lebih suka menyebutnya cerita-cerita pencerahan), tampil sebagai salah satu pelopor di dunianya.

Sejak kecil Asma sudah senang menulis puisi dan lagu. Helvy Tiana Rosa, sang kakak yang juga penulis ternama, juga banyak menulis cerita. Tentang kemampuan menulis lagu itu bisa dimaklumi karena ayah Asma, Amin Ivo’s, adalah pencipta lagu. Salah satu lagu ciptaannya, ‘’Kau Bukan Dirimu'’, dinyanyikan Dewi Yull.

Kegiatan membaca juga menjadi bagian lain dari masa kecil Asma, sehingga hal itu membuat ia suka menulis. Dari kecil dia dilimpahi buku oleh orang tuanya, meski kondisi ekonomi tidak baik. Jenis bukunya macam-macam, mulai dari komik, biografi, asal-usul, Agatha Christie, hingga lima sekawan. Asma tidak percaya kalau menulis itu karena garis keturunan.

‘’Aku pernah menulis tulisan berat, tetapi tidak bagus. Akhirnya, aku beralih ke cerita fiksi dan merasa duniaku ada di sana,'’ kata Asma. Cerita bertema dunia remaja pun menjadi garapannya. Bukan karena belum banyak penulis yang memfokuskan diri pada dunia itu yang membuat Asma bergelut di dunia remaja. Namun, karena kecintaan dan rasa senang yang besar untuk menggali kisah-kisah remaja.

Sebetulnya, kebiasaan menulis cerpen itu sendiri suda dilakukan dia sejak kelas satu SMP. ‘’Waktu itu aku menulis cerpen 11 halaman,'’ Asma menjelaskan. Seorang saudaranya yang aktif di teater berkomentar bahwa cerpen itu klise, pasaran. Kritik itu membuat Asma bertekad untuk menulis lebih baik lagi.

Baru kelas tiga SMP dia merasa perlu memiliki misi dalam menulis cerita. Jadi, bukan hanya membuat cerita asal jadi, tanpa maksud. Saat itu perempuan bersuami Alamsyah yang bekerja sebagai wartawan di televisi NHK Jepang Indonesia itu mulai mengenakan jilbab. Tulisannya langsung terarah. Misinya ingin menceritakan bahwa Islam itu universal.

Pada awalnya Asma mengaku tidak merasa percaya diri atas karya yang dibuatnya. ‘’Kakak saya bilang, terus masuki secara serius. Kalau sudah menang dua kali, gak usah mikir seperti itu,'’ kata Asma menirukan nasihat Helvy. Pada 1994 dan 1995, majalah Ummi memberi penghargaan kepada Asma sebagai juara penulisan cerpen.

Pada sisi lain, Helvy mengingatkan bahwa pengarang perempuan itu jumlahnya masih sedikit. Apalagi, mereka yang peduli pada dunia remaja dan mempunyai misi. Hal itu mendorong Asma untuk terus maju dan berkarya di tengah ketidakpercayaan dirinya.

Sebagai penulis, Asma memang tidak mengalami masa penolakan oleh penerbit atau surat kabar. Cerpen pertamanya berjudul “Surat Buat Assadullah di Surga”, di muat di Annida pada 1990. Begitu seterusnya, majalah seperti Ummi, Sabili, dan lainnya, menjadi tempat berkiprah wanita yang hobi menonton film itu. ‘’Kecuali film fiksi ilmiah, Aku kurang suka,'’ tandasnya.

Ketika ditamnya hubungannya dengan Helvy, Asma mengaku tidak merasa bersaing, meski sama-sama penulis. Yang ada, katanya, malah saling mendukung. Apalagi, bidikan mereka berbeda. Helvy menggarap pasar orag-orang dewasa dan serius. Sementara itu, ia oeduli pada dunia remaja.

Asma mengaku banyak belajar dari kakaknya yang terlebih dahulu menulis.
‘’Helvy-lah yang mengganti namaku jadi Asma Nadia, yang artinya nama yang menyeru,'’ kata Asma. Waktu itu, Asma bercerita bahwa ia menyerahkan cerpen kepada kakaknya untuk dibaca. Ketika melihat bahwa ia menggunakan nama Asmarani Rosalba, Helvy seketika menggantinya dengan Asma Nadia. Katanya, nama aslinya susah diingat.

Geger otak yang dialaminya itu tidak menghalanginya untuk aktif di berbagai kegiatan sekolah, dari SD sampai kuliah. Maria Eri Susanti, sang ibu, juga tidak mengekang putri keduanya itu untuk mengekspresikan dirinya di kepramukaan, karate, dan teater sekolah.

Namun, kondisi itu membuat Asma tidak boleh kerja keras secara fisik. Dia tidak boleh berbenah-benah dan kena debu, sehingga akhirnya tidak bisa masak. Untuk keperluan makan dia; suami; dan kedua anaknya; Eva Maria Putri, 6,5 tahun, dan Adam Putra Firdaus, 2,5 tahun; keluarga itu memelihara pengasuh.

Terhadap para pengasuhnya itu, Asma selalu mengingatkan kedua anaknya untuk tidak menganggapnya sebagai pembantu. ‘’Mereka adalah pengasuh Caca dan Adam,'’ kata Asma kepada keduanya. Caca adalah panggilan akrab putri pertamanya. Tentang pembantu, wanita yang menikah di usia ke-23 itu mengaku sangat respek terhadap nasib mereka. Dia pun menulis novel berjudul Derai Sunyi.

Kini, sejumlah obsesi pun terus menggantung di benak Asma. Penulis yang tinggal di Depok itu berharap, suatu hari, memiliki rumah singgah bagi anak-anak telantar. Dia juga ingin membangun sekolah. Di dunianya, Asma berharap dapat membuat sebuah novel remaja yang lebih serius dan nyastra.

December 5, 2005

Kuingin…..

Filed under: Personal

berteriak & menangis….
(ah, betapa cengengnya aku ini)

Ya Alloh, semoga Engkau senantiasa menguatkan hati ini…

December 4, 2005

Ijinkan Aku Memanggilmu Kakak

Filed under: Personal

Aku masih inget saat pertama kali kenal dia di tahun 2001, di semester pertamaku di BL. Saat itu dia menggantikan dosen Bahasa C-ku yang berhalangan hadir. Penampilannya saat itu cukup anggun, rambut panjang, orang kecil mungil, ya…gak jauh beda seperti penampilan sekarang ini.

Setelah pertemuan pertamaku dengannya saat itu, sesekali aku berkesempatan mengobrol dengannya. Orangnya asyik dan care sama aku. Mungkin karena kita sama-sama Ikadin di kampus ini. Namun kita belum begitu akrab. Ya…aku sadar bahwa dia adalah dosen dan aku hanya mahasiswa, jadi ya harus jaga sikap dan jaga diri.

Di semester ke-3 kuliahku, aku mengambil dia untuk matakuliah PAB. Saat itu aku sengaja mengambil matakuliah pilihan ini buat tambah-tambah IPK. Lumayan 4 SKS. Dan sengaja juga aku mengambil dia, karena aku dan dia sudah saling kenal. Kan kalo dah kenal, dapet nilai A-nya kan enak, hehe2x. Kalo aku sih kuliah sama dia nyantai abiss, dateng agak telat, duduk di pojok depan sebelah kanan, terus langsung pasang muka serius pura-pura memperhatikan, walau sebenernya menahan kantuk. Dan terkadang gak sengaja sudah terlelap. Saat terima KHS, tertera huruf A untuk matakuliah PAB. Hehe2x, padahal gak begitu ngerti apa yang dipelajarin

Kami semakin akrab dan semakin sering ketemu. Soalnya aku sering bantu dia juga, baik bantu saat dia ngajar di Labkom maupun di luar kegiatan belajar mengajar.

Saat skripsi, aku juga sering berkonsultasi masalah ERD dan DAD. Di sisi lain, aku juga sering bantu dia kalo pas dia ada tugas kuliah S2-nya. Juga saat sidang skripsi, bantuan dan dukungannya sungguh berarti bagiku. Mulai dari nge-print lampiran program skripsian sekitar 200 halaman yang belum sempet di-print saat pagi menjelang sidang, hingga dukungan moriil dan do’a. Bahkan tanpa lantaran bantuannya, mungkin aku blum bisa diwisuda bulan April kemarin. Di dua hari sebelum pendaftaran wisuda berakhir, saat pikiran ini sedang bingung memikirkan bagaimana caranya membayar uang wisuda, dia bertanya “Dah bayar wisuda blum?“. Dengan malu-malu dan berat hati, aku jawab dengan singkat, “Belum“. Selanjutnya dia bilang, “Udah, pake uangku dulu aja, yang penting kamu bisa wisuda”. Ada rasa haru di hati ini, ternyata masih ada yang memberi perhatian padaku, lirih aku menjawab dengan mata berkaca, “Makasih…“.

Kebersamaan aku dan dia pun berlanjut hingga saat ini. Setelah lulus, aku ditempatkan di tempat yang sama dengan dia.

Saat bersama dia, aku merasa punya teman yang bisa memahamiku, yang bisa mengerti keadaanku, apa adanya. Aku merasa punya kakak yang senantiasa mendengarkan dan melindungiku. Aku merasa hidup ini lebih berarti. Dalam hati ini, aku bertekad untuk membalas semua kebaikannya, untuk senantiasa setia mendengar keluh kesahnya, untuk senantiasa saling membantu dalam suka dan duka. Ya Alloh, semoga Engkau selalu melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Mu pada dia.

Aku kan mencoba jadi adik yang baik. Mba Iinku, ijinkan aku memanggilmu kakak…

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main