Achmatim ~ Harapan Terindah

April 30, 2006

Sop Kasih Sayang

Filed under: Personal, Love

A : Kasihku, nanti buatin aku sop-kasih-sayang donk tiap hari. Mau kan ?

B : Boleh, tapi bumbunya apa aja yach ?

A : Bumbunya saling percaya, pengertian, perhatian, motivasi dan mau menerima apa adanya. Oya, jangan lupa tambahkan penyedap rasa cinta asli karena 4JJI secukupnya ya… Kasihku punya semua bumbunya kan ??

B : Insya 4JJI masih cukup untuk membuat sop-kasih-sayang setiap hari.

A : Yap. Makasih banyak yach. Tapi disimpan dulu yach, bikin sop-kasih-sayang-nya nanti aja, saat waktu-Nya telah tiba.

April 25, 2006

Mawar Untuk Ibu

Filed under: Motivasi

Mawar Untuk IbuSeorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal jauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu.

Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil, “Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu.”

Pria itu tersenyum dan berkata, “Ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kau mau.”

Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.

Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, “Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?”

Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.

Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.

Jangan sampai kita terlambat memberikan setangkai mawar cinta dan kasih sayang untuk ibu kita masing-masing.

sumber : milis cetivasi

April 20, 2006

Selamat Hari Kartini

Filed under: General

Ibu Kita Kartini
Selamat Hari Kartini


Ibu Kita Kartini

Ciptaan: W.R. Supratman

Ibu kita Kartini, putri sejati
Putri Indonesia, harum namanya
Ibu kita Kartini, pendekar bangsa
Pendekar kaumnya untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya, bagi Indonesia

Ibu kita Kartini, Putri jauhari
Putri yang berjasa, se-Indonesia
Ibu kita Kartini, Putri yang suci
Putri Yang merdeka, cita-citanya
Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya, bagi Indonesia

Ibu kita Kartini, pendekar putri.
Pendekar kaum ibu, se-indonesia.
Ibu kita Kartini, penyuluh budi,
Penyuluh Bangsanya, kar ‘na cintanya.
Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya, bagi Indonesia

Beban Hidup dan Hukum Newton

Filed under: Motivasi

BERAT, itulah kata yang bisa mewakili tantangan hidup kekinian. Orang miskin dihadang penyakit di sana-sini. Orang kaya alisnya dibikin berkerut oleh berbagai masalah. Sebagian malah sudah dipenjara, sebagian lagi menunggu giliran untuk beristirahat di tempat yang sama. Manusia biasa menggendong berbagai beban ke sana ke mari (dari mencari nafkah, menyekolahkan anak sampai dengan mempersiapkan hari tua), pejabat maupun pengusaha juga serupa: senantiasa ditemani masalah kemanapun ia pergi. Di desa banyak orang mengeluh, luas tanah tetap namun jumlah manusia senantiasa tambah banyak. Sehingga setiap tahun memunculkan tantangan penciptaan lapangan kerja. Bila tidak terselesaikan ia bisa lari kemana-mana. Dari kejahatan sampai dengan kekerasan.

Digabung menjadi satu, jadilah kehidupan berwajah serba berat di sana-sini. Tidak saja di negara berkembang, di negara maju sekali pun tantangannya serupa. Kemajuan ekonomi Jepang yang demikian fantastis tidak bisa mengerem angka bunuh diri. Kemajuan peradaban Amerika tidak membuat negara ini berhenti menjadi konsumen obat tidur per kapita paling tinggi di dunia. Jangankan berbicara negeri Afrika seperti Botswana. Rata-rata harapan hidup hanya 30-an tahun. Orang dewasa di sana lebih dari 80 persen positif terjangkit HIV. Sehingga
menimbulkan pertanyaan, “Demikian beratkah beban manusia untuk hidup?”.

Ada sahabat yang menghubungkan beratnya hidup manusia dengan hukum gravitasinya Newton yang berpengaruh itu. Sudah menjadi pengetahuan publik, kalau Newton menemukan hukum ini ketika duduk di bawah pohon apel, dan tiba-tiba buahnya jatuh. Sehingga Newton muda berspekulasi ketika itu, ada serangkaian hukum berat (baca: gravitasi) yang membuat semua benda jatuh ke bawah.

Sahabat ini bertanya lebih dalam, “Kalau gravitasi yang menarik apel jatuh ke bawah, lantas hukum apa yang membawanya naik ke puncak pohon apel?” Dengan jernih ia menyebut “The law of levitation” (hukum penguapan). Kalau gravitasi menarik apel ke bawah, penguapan menariknya ke arah atas.

Dalam bahasa yang lugas sekaligus cerdas, sahabat ini mengaitkan kedua hukum fisika ini ke dalam dua hukum kehidupan: “Hate is under the law of gravity, love is under the law of levitation.

Kebencian berkait erat dengan gravitasi karena mudah sekali membuat manusia hidup serba berat dan ditarik ke bawah. Cinta berkaitan dengan gerakan-gerakan ke atas. Karena hanya cinta yang membuat manusia ringan dan terbang ke atas. Sungguh sebuah bahan renungan
kehidupan yang cerdas dan bernas.

Kembali ke soal hidup manusia yang serba berat, tidak ada manusia yang bebas sepenuhnya dari masalah. Bahkan ada yang menyederhanakan kehidupan dengan sebuah kata: penderitaan! Hanya saja kebencian berlebihan yang membuat semua ini menjadi semakin berat dan semakin
berat lagi. Ada yang benci pada diri sendiri, ada yang membenci orang tua, suami, istri, teman, tetangga, atasan kerja, sampai dengan ada yang membenci Tuhan. Na’udzubillahi min dzalik

Perhatikan wajah-wajah manusia kekinian yang miskin senyum, yang mudah tersinggung, yang senantiasa minta diperhatikan, penerimaan bulanan yang serba kurang, dan masih bisa ditambah lagi dengan yang lain. Semuanya berakar pada yang satu: kebencian! Sehingga mudah dimengerti kalau perjalanan hidup seperti buah apel, semakin tua semakin berat dan semakin ditarik ke bawah.

Kebencian membuat beban hidup semakin berat, Cinta dan kasih sayang membuat beban hidup semakin ringan. Pilihan ada di tangan Anda, untuk memilih jalan hidup dan kehidupan ini.

Sumber : Milis motivasi dengan beberapa perubahan

April 17, 2006

Maafkan…

Filed under: Personal

Sobatku….
Maafkan aku yach…………
I just wanna u b more better,
I just wanna u know, u not alone…
I still here, i still here…

April 12, 2006

Antara Jakarta, Banyumas dan Jogja (2)

Filed under: Personal, Perjalanan

Perjalanan singkat, perjalanan seru, perjalanan lucu, perjalanan romansa, perjalanan melelahkan, perjalanan membahagia, perjalanan antara Jakarta, Banyumas dan Jogja.

Kita lanjutkan perjalanan kita. Hari Sabtu, 08 April 2006. Pagi-pagi jam setengah lima, otim bangunin lewat sms. Segera aku ajak ambil air wudhu dan sholat subuh berjamaah. Indahnya hidup. Selesai sholat, mata terasa berat. Tidur lagi. Ngelirik putut juga masih terlelap dengan wajah tanpa dosanya, hehe2x. Tiba-tiba hp bergetar. Otim mengingatkan untuk jangan tidur, soalnya kita berencana mau pulang pagi-pagi. Ya udah kita ngobrol aja deh. Tentang sketsa masa depan. Ada harapan indah di sana.

Sebelum pulang, kami bertiga sempet jalan-jalan ke lingkungan sekitar. Naik gunung. Udaranya masih segar. Udara pegunungan. Kami pulang ikut keluarga pengantin pria sampai di daerah Bendho. Tujuan selanjutnya adalah Prambanan. Kapan lagi kan bisa ke situ

Pukul 11.00 siang, udara Prambanan sangat panas. Menyengat. Pantas saja banyak jasa penyewaan payung di sini. Hanya dua ribu rupiah katanya. Setelah membeli tiket, seharga 8000 rupiah, kami masuk ke area utama Prambanan. Ohya, bagi yang membawa kamera, dikenakan biaya tambahan 1000 rupiah per kamera. Kami berkeliling menikmati suasana Prambanan. Konon ada 1000 candi lho.. tapi yang jelas kami tak berniat untuk menghitung ulang jumlahnya. Candi Prambanan merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia bahkan konon di Asia Tenggara.

Foto di Prambanan

Kompleks Candi Prambanan mempunyai 3 halaman, yaitu halaman pertama berdenah bujur sangkar, merupakan halaman paling suci karena halaman tersebut terdapat 3 candi utama (Siwa, Wisnu, Brahma), 3 candi perwara, 2 candi apit, 4 candi kelir, 4 candi sudut/patok. Halaman kedua juga berdenah bujur sangkar, letaknya lebih rendah dari halaman pertama. Pada halaman ini terdapat 224 buah candi perwara yang disusun atas 4 deret dengan perbandingan jumlah 68, 60, 52, dan 44 candi. Susunan demikian membentuk susunan yang konsentris menuju halaman pusat. Dengan demikian, kompleks Candi Prambanan dibangun dalam suatu kesatuan konsep, yaitu Candi Siwa sebagai sentral pemujaan arca Siwa Mahadewa sebagai arca utamanya. Hal ini sesuai dengan pemberitaan dalam prasasti Ciwagrha tahun 856 M yang dikeluarkan oleh Rakai Pikatan (dikutip dari http://www.jawapalace.org/prambanan.htm)

Sambil berkeliling, sesekali kita foto-foto. Foto sendiri, foto berdua, tapi sayang gak ada yang foto bertiga. Ada getar menyesakkan dada saat harus bersanding dengannya. Juga foto keindahan candi. Sungguh hebat yang bikin candi ini, dan sungguh jauh lebih hebat Sang Pencipta orang yang bikin candi ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30. Kami segera beranjak dari Prambanan, menuju Jogja. Sampai di terminal Jogja, pukul 13.00. Laper nich. Makan bakso yuks. Sehabis sholat dhuhur, segera lanjutkan perjalanan ke tempat mbah Putut di Gunung Kidul. Jauuuuuh. Mata ini sudah tidak mau kompromi lagi. Berat. Berkali-kali otim mengingatkan untuk tidur saja. Kami bertiga tidak banyak ngobrol, masing-masing memang lelah.

Sampai di tempat simbah Putut pukul 16.00 sore. Disuruh nginep. Antara mau dan tidak. Otim harus pulang hari ini soalnya. Wah, dibawain kacang satu karung. Kami pulang pukul 17.00 sore, dianter pake mobil pick up yang “keren abiss”. Kami harus segera ke terminal Jogja dan pulang kembali ke Sumpiuh. Sampai di Jogja pukul 18.40, langsung cari bus jurusan Jogja-Purwokerto. Langsung naik.

Dalam perjalanan, kami menyusun rencana sesampainya di rumahku. Otim kan harus pulang. Diperkirakan sampai rumah jam 22.00 atau 23.00 malem. Selanjutnya semua terlelap. Saya berkali-kali terbangun. Jangan sampai Sumpiuh terlewat. Sesekali melirik wajah manis di sampingku. Tak berani menatap lebih lekat. Hatiku mendesir.

Benar saja, sampai di rumah pukul 23.00. Istirahat sejenak. Saya dan Putut langsung mengantar Otim ke rumahnya. Perjuangan berat. Ada ketakutan di sana. Tidak pernah selarut ini. Alhamdulillah sampai di rumah otim dengan selamat. Saya pamit pulang tanpa terpikir akan ada sedikit awan gelap menutupi aku dan dia.

April 11, 2006

Antara Jakarta, Banyumas dan Jogja

Filed under: Personal, Perjalanan

Perjalanan singkat, perjalanan seru, perjalanan lucu, perjalanan romansa, perjalanan melelahkan, perjalanan membahagia, perjalanan antara Jakarta, Banyumas dan Jogja.

Berikut kisah singkatnya :

Perjalanan dimulai hari Kamis 6 April sore, tepatnya pukul 17.45 WIB. Saya dan Putut naik bis Sinar Jaya dari Ciledug. Perjalanan cukup melelahkan. Beberapa kali bis berhenti untuk pemeriksaan penumpang dan beristirahat, menjadikan perjalanan terasa lambat. Ditambah lagi kondisi jalan yang rusak di sana sini. Akhirnya sampai juga di Sumpiuh sekitar pukul 06.00 pagi. Tak lupa, saya sms temanku, otim, yang mau ikut ke Jogja, untuk datang ke rumah jam 07.00 pagi. Sampai di rumahku (Selandaka, Sumpiuh, Banyumas) pukul 06.15. Kami istirahat sejenak sambil nunggu Otim. Pukul 07.00 tepat, Otim datang naik motor.

Pukul 08.00 pagi, perjalanan dilanjutkan ke Jogja. Kami, _saya, Putut dan Otim_ bertiga naik bis “Aman” menuju terminal bis Jogja. Tujuan utama kami adalah menghadiri pernikahan Mba Iin di Gunung Kidul. Mungkin karena kecapean, Putut langsung tertidur, setelah beberapa saat bis berjalan. Sementara saya nemenin Otim baca novelet “Sebuah Janji untuk Istriku”. Seru. Kita berdialog tentang cerita, tokoh dan apa yang terjadi dalam novelet tersebut. Tak terasa satu buku habis dibaca. Ada desir mendera di dada ini. Ada janji yang terukir di hati ini.

Sampai di Jogja pukul 12.25. Wadhuh… hari Jumat lagi. Blum sholat jumat. Langsung menuju ke masjid di terminal, tapi kayaknya gak dapet dech. Kami sholat di masjid dan foto-foto sebentar. Karena perut sudah teriak-teriak, jadinya kami makan dan minum dulu. “Indomie dua, es teh satu, es jeruk satu dan fruitea satu ya mas..”.

Selanjutnya, pukul 13.30 kami naik bis jurusan Jogja-Solo. Turun di Galwas (atau Galmas yach?). Nah, sampai di situ bingung dech, mo naik apa. Seorang tukang delman yang sudah cukup berumur mendekat dan tanya mau kemana. Kita jawab aja mau ke Gedhang Sari. Setelah ngobrol dan tawar menawar dengan tukang delman, akhirnya kita sepakat untuk dianterin dengan delman ke tempat tujuan. Seru juga. Di tengah perjalanan kita bertiga tertawa kegelian. Apalagi pas delman yang kita naiki ketemu sama delman lain. Kudanya seolah kesengsem sama kuda delman tersebut. Kuda delman yang kita naiki seperti mengejarnya, hingga penumpang yang naik di delman satunya ketakutan. Hihihihi…. trus kudanya jalannya aneh, sampe-sampe mau nabrak orang yang lagi naik sepeda. Otim pun teriak ketakutan dibuatnya. Hehe2x. Ada kelucuan di sana.

Delman hanya mengantar kita sampai ke daerah Gempol. Kita bertiga melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek “dadakan”. Sempet berdebat juga soal harga dan tempat yang dituju. Setelah bertanya beberapa kali ke penduduk, dan juga nyasar ke sana kemari, akhirnya sampai juga di tempat Mba Iin. Jam hampir menunjukkan pukul 16.00 sore.

Salam sana salam sini, trus makan-makan, trus foto-foto, trus ngobrol-ngobrol deh. Tiba-tiba mba iin begitu ceria dengan kedatangan kita. Mba iin minta kita nginep di tempatnya karena hari sudah sore. Lalu kita adakan rapat pleno tertutup. Saya, putut dan otim. Mencari jalan keluar, mau nginep atau melanjutkan perjalanan ke tempat simbah putut. Akhirnya keputusan disepakati bahwa kita akan nginep dengan catatan, pagi harinya minta anterin sama mba iin ke bawah.

Sore menjelang maghrib, kita mandi di tempat pemandian umum. Seru juga. Mandi dengan air segar pegunungan. Malam hari ikut acara jejer-pengantin. Foto-foto juga. Seru. Acara selesai jam 23.00 malem. Kita sempet ngobrol-ngobrol. Mata terasa berat. Saya ngobrol sama mba iin sampai jam 01.00 dini hari. Sementara putut sudah terlelap dalam mimpinya. Menjelang tidur, otim mengingatkan untuk bangunin pagi-pagi. Ada getar kasih sayang di sana.

(bersambung)

Acara Jejer Mba Iin

April 6, 2006

Dan Kebahagiaan Itu Datang…

Filed under: Personal

Dan kebahagiaan itu pun datang,
walau terkadang datang tanpa diundang,
tapi kebahagiaan tetaplah bertandang
saat waktu-Mu telah tiba.

Selamat berbahagia buat yang berbahagia
1. Mba Iin (07 April 2006)
2. Mba Fitri (08 April 2006)
3. Om Sovan (29 April 2006)
4. Ita (? Juli 2006)
5. Ronmot (? Juli 2006)
6. Mba Dyah ( ? ? 2006)
7. Mba Nita
8. Who is next ??

Masih menunggu waktu-Mu tiba

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main