Bila Sebuah Batu Tergeletak di Jalan
Bila Sebuah Batu Tergeletak di Jalan
-Emha Ainun Nadjib-
Bila sebuah batu tergeletak di jalan
Dan ia membahayakan pemakai jalan
Anda memungutnya, dan mencari seseorang untuk membahas
Apa yang dapat kita perbuat agar batu tersebut bermanfaat
Itulah Islam
<!–more–>
Islam adalah untuk menjaga kesuburan tiap sudut tanah
Untuk mengagumi gunung dan laut yang luas, atau sekadar untuk menyirami tanaman,
Untuk berenang dalam air sambil bersyukur kepada Allah
Atau untuk menghirup udara dengan kerinduan untuk bertemu Allah
Islam adalah, bila ada satu makhluk sedang kelaparan,
Walau ia hanya seekor anjing,
Anda merasa tidak enak karena kenyang seorang diri
Maka Anda lalu belajar untuk merasakan lapar,
Sebelum Anda merasa layak disebut sebagai saudara oleh orang-orang lapar.
Islam adalah, ketika seseorang merasa haus
Bahkan bila ia adalah seorang yang akan membunuh Anda,
Anda merasakan kehausannya
Dan berbagi air Anda dengannya
Islam adalah
Ketika Anda melihat seseorang dipinggirkan dan merasa sendirian
Anda menghampirinya dan mengucapkan salam kepadanya
Islam adalah
Mencintai bahkan orang-orang yang membenci Anda,
Dan memuji dengan bijak
Seseorang yang menganggap Anda sebagai musuhnya
Islam adalah komunitas yang berdamai dengan alam
Sungai dan hutan, air dan daratan, gunung dan laut
Yang mereka cintai seolah-olah isteri-isteri mereka sendiri
Menjaga kesuburannya semata-mata dengan cinta
Islam adalah
Sebuah pemerintah yang menganggap rakyatnya sebagai seorang isteri,
Saling menyayangi, bekerjasama dengan keseimbangan kekuasaan antara yang satu
dengan yang lain,
Islam adalah keadaan di mana si kuat memahami pentingnya si lemah
Dan si lemah tidak menikmati kelemahan dan ketergantungannya
January 10, 2006
Selamat Hari Raya Idul Adha
Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar
Laa Ilaaha illallohu Allohu akbar
Allohu akbar wa lillahi ilhamduGema takbir, tahmid dan tahlil berkumandang, mengiring fajar Hari Raya. Selamat Hari Raya Idul Adha 1426H. Semoga segala amal dan ibadah kita diterima oleh Alloh SWT. Dan semoga kita semakin mendekatkan diri pada-Nya, sesuai dengan makna qurban.
Hari Raya Qurban tahun ini, seperti dua tahun terakhir, saya peringati di Jakarta. Kebetulan tidak memungkinkan untuk pulang ke kampung, karena kebetulan tidak ada libur. Pagi, sehabis sholat subuh, istirahat sebentar di kost-an. Pukul 6 lebih mandi dan bersiap ke masjid. Tahun ini, saya sholat di Masjid Jami’ Al-Abror yang kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dengan tempat kost.
Sampai di masjid, jama’ah sudah memenuhi masjid. Saya memaksakan diri untuk tetap masuk masjid, karena memang tidak membawa sajadah atau koran sebagai alas sholat. Akhirnya kudapatkan juga tempat di serambi masjid. Sebelum sholat ‘Ied, seorang ustadz menjelaskan tatacara sholat ‘Ied, sekedar mengingatkan bagi yang lupa, bahwa sholat terdiri dari dua raka’at dengan masing-masing tujuh dan lima takbir. Sholat ‘Ied berjalan dengan lancar. Selesai sholat dilanjutkan dengan khutbah. Pada intinya, khotib menyampaikan untuk meneladani keikhlasan dan pengorbanan Nabi Ibrahim Alaihi Salam dan keluarganya untuk menjalankan perintah Alloh SWT, yakni menyembelih putra beliau, Nabi Ismail Alaihi Salam.
Pulang dari masjid langsung ke kost-an. Ngapain yach…? Kuputuskan tuk nyuci baju dan seprei serta bersih-bersih kamar. Selesai jam sepuluhan. Tiba-tiba ibu kost memanggil, suruh turun ke rumahnya. Ternyata disuruh makan ketupat sayur. “Kebetulan, perut lagi laper nich”, pikirku. Awalnya sih cuman sendiri, tapi kemudian seorang penghuni kost lain datang dan disuruh makan juga. Anaknya tinggi, kulit hitam, dan hidung mancung. Saya pikir pasti orang luar jawa. Sambil makan, iseng-iseng saya mulai bertanya, berkenalan. Dia jawab dengan singkat dan terkesan sekenanya. Logatnya logat Sumatra.
Ada hal yang cukup menarik dari obrolan kami. Berikut sedikit cuplikan obrolan kami, tentunya dengan bahasa yang sudah diedit oleh pikiran saya sendiri. Sebut saya dengan ‘A’ dan dia dengan ‘B’.
…
A : “Emang masih kuliah mas? Atau udah kerja?”
B : “Kuliah. Di BL”
A : Wah, BL ternyata BL juga nich
B : “Mas masih kuliah di BL juga?”
A : “Iya, tapi sudah lulus. Angkatan berapa mas?”. Kayaknya sih angkatan 2000 atau 2001
B : “Angkatan 2003. Lulus kapan? 2005 yach?”
A : “Iya. Mas sering ke lab donk..?”. Soalnya kok dia gak kenal saya, biasanya kan kalo mahasiswa sering ke lab pasti kenal saya, atau minimal pernah ngeliat.
B : “Jarang”
A : Pantesan… gak kenal. Tanyain ah, pernah ngeliat saya di lab gak?
B : “Sebenernya sih pengin sering-sering ke lab, tapi males. Di BL kan diskriminasi banget mas…”
A : “Diskriminasi gimana? antara mahasiswa dan assisten maksudnya??”
B : “Ya”. Lirih.
A : “Emang sih, assisten itu bebas make komputer kapan aja, tapi kan mereka punya tanggung jawab juga, untuk ngurusin komputer itu. Kalo komputer ada yang rusak, siapa yang ngebenerin?”
B : Diam
B : “Di BL itu masuknya gampang, tapi lulusnya susah”. Mengalihkan pembicaraan.
A : “Masak sih? Ya, tergantung mahasiswanya juga sih, banyak yang lulus cepet, tapi juga ada yang gak lulus-lulus, bahkan angkatan 93 pun masih ada. Mang pengin lulus kapan mas?”
B : “Ah…mungkin 2008 baru bisa lulus kali”. Pasrah
A : “Lho kok 2008?? Gak kelamaan mas?”. Lirih
B : Mendesah
…
Selesai makan, kembali ke kost, sambil masih terus memikirkan obrolan barusan. Ternyata memang, saya yakin, masih banyak mahasiswa yang kontra dengan assisten, menganggap bahwa ada diskriminasi antara assisten dan mahasiswa. Assisten bebas memakai komputer seenaknya, sementara mahasiswa dibatasi haknya. Saya kira ini memang masalah lama yang tak ada habisnya dari tahun ke tahun. Intinya sebenernya hanya masalah komunikasi. Dan dalam hal ini, assisten-lah yang harus berperan pro-aktif. Assisten-lah yang harus bisa membuka diri dengan mahasiswa, harus bisa berlapang dada untuk menerima masukan dari mahasiswa dan juga harus dengan ikhlas melayani mahasiswa dengan sebaik-baiknya. Buat temen-temen keluarga besar Labkom UBL, mari bersama-sama berikan yang terbaik untuk semua.
Semoga gema takbir Idul Adha masih selalu kita dengar dalam hidup dan kehidupan kita.
