Achmatim ~ Harapan Terindah

April 12, 2006

Antara Jakarta, Banyumas dan Jogja (2)

Filed under: Personal, Perjalanan

Perjalanan singkat, perjalanan seru, perjalanan lucu, perjalanan romansa, perjalanan melelahkan, perjalanan membahagia, perjalanan antara Jakarta, Banyumas dan Jogja.

Kita lanjutkan perjalanan kita. Hari Sabtu, 08 April 2006. Pagi-pagi jam setengah lima, otim bangunin lewat sms. Segera aku ajak ambil air wudhu dan sholat subuh berjamaah. Indahnya hidup. Selesai sholat, mata terasa berat. Tidur lagi. Ngelirik putut juga masih terlelap dengan wajah tanpa dosanya, hehe2x. Tiba-tiba hp bergetar. Otim mengingatkan untuk jangan tidur, soalnya kita berencana mau pulang pagi-pagi. Ya udah kita ngobrol aja deh. Tentang sketsa masa depan. Ada harapan indah di sana.

Sebelum pulang, kami bertiga sempet jalan-jalan ke lingkungan sekitar. Naik gunung. Udaranya masih segar. Udara pegunungan. Kami pulang ikut keluarga pengantin pria sampai di daerah Bendho. Tujuan selanjutnya adalah Prambanan. Kapan lagi kan bisa ke situ

Pukul 11.00 siang, udara Prambanan sangat panas. Menyengat. Pantas saja banyak jasa penyewaan payung di sini. Hanya dua ribu rupiah katanya. Setelah membeli tiket, seharga 8000 rupiah, kami masuk ke area utama Prambanan. Ohya, bagi yang membawa kamera, dikenakan biaya tambahan 1000 rupiah per kamera. Kami berkeliling menikmati suasana Prambanan. Konon ada 1000 candi lho.. tapi yang jelas kami tak berniat untuk menghitung ulang jumlahnya. Candi Prambanan merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia bahkan konon di Asia Tenggara.

Foto di Prambanan

Kompleks Candi Prambanan mempunyai 3 halaman, yaitu halaman pertama berdenah bujur sangkar, merupakan halaman paling suci karena halaman tersebut terdapat 3 candi utama (Siwa, Wisnu, Brahma), 3 candi perwara, 2 candi apit, 4 candi kelir, 4 candi sudut/patok. Halaman kedua juga berdenah bujur sangkar, letaknya lebih rendah dari halaman pertama. Pada halaman ini terdapat 224 buah candi perwara yang disusun atas 4 deret dengan perbandingan jumlah 68, 60, 52, dan 44 candi. Susunan demikian membentuk susunan yang konsentris menuju halaman pusat. Dengan demikian, kompleks Candi Prambanan dibangun dalam suatu kesatuan konsep, yaitu Candi Siwa sebagai sentral pemujaan arca Siwa Mahadewa sebagai arca utamanya. Hal ini sesuai dengan pemberitaan dalam prasasti Ciwagrha tahun 856 M yang dikeluarkan oleh Rakai Pikatan (dikutip dari http://www.jawapalace.org/prambanan.htm)

Sambil berkeliling, sesekali kita foto-foto. Foto sendiri, foto berdua, tapi sayang gak ada yang foto bertiga. Ada getar menyesakkan dada saat harus bersanding dengannya. Juga foto keindahan candi. Sungguh hebat yang bikin candi ini, dan sungguh jauh lebih hebat Sang Pencipta orang yang bikin candi ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30. Kami segera beranjak dari Prambanan, menuju Jogja. Sampai di terminal Jogja, pukul 13.00. Laper nich. Makan bakso yuks. Sehabis sholat dhuhur, segera lanjutkan perjalanan ke tempat mbah Putut di Gunung Kidul. Jauuuuuh. Mata ini sudah tidak mau kompromi lagi. Berat. Berkali-kali otim mengingatkan untuk tidur saja. Kami bertiga tidak banyak ngobrol, masing-masing memang lelah.

Sampai di tempat simbah Putut pukul 16.00 sore. Disuruh nginep. Antara mau dan tidak. Otim harus pulang hari ini soalnya. Wah, dibawain kacang satu karung. Kami pulang pukul 17.00 sore, dianter pake mobil pick up yang “keren abiss”. Kami harus segera ke terminal Jogja dan pulang kembali ke Sumpiuh. Sampai di Jogja pukul 18.40, langsung cari bus jurusan Jogja-Purwokerto. Langsung naik.

Dalam perjalanan, kami menyusun rencana sesampainya di rumahku. Otim kan harus pulang. Diperkirakan sampai rumah jam 22.00 atau 23.00 malem. Selanjutnya semua terlelap. Saya berkali-kali terbangun. Jangan sampai Sumpiuh terlewat. Sesekali melirik wajah manis di sampingku. Tak berani menatap lebih lekat. Hatiku mendesir.

Benar saja, sampai di rumah pukul 23.00. Istirahat sejenak. Saya dan Putut langsung mengantar Otim ke rumahnya. Perjuangan berat. Ada ketakutan di sana. Tidak pernah selarut ini. Alhamdulillah sampai di rumah otim dengan selamat. Saya pamit pulang tanpa terpikir akan ada sedikit awan gelap menutupi aku dan dia.

April 11, 2006

Antara Jakarta, Banyumas dan Jogja

Filed under: Personal, Perjalanan

Perjalanan singkat, perjalanan seru, perjalanan lucu, perjalanan romansa, perjalanan melelahkan, perjalanan membahagia, perjalanan antara Jakarta, Banyumas dan Jogja.

Berikut kisah singkatnya :

Perjalanan dimulai hari Kamis 6 April sore, tepatnya pukul 17.45 WIB. Saya dan Putut naik bis Sinar Jaya dari Ciledug. Perjalanan cukup melelahkan. Beberapa kali bis berhenti untuk pemeriksaan penumpang dan beristirahat, menjadikan perjalanan terasa lambat. Ditambah lagi kondisi jalan yang rusak di sana sini. Akhirnya sampai juga di Sumpiuh sekitar pukul 06.00 pagi. Tak lupa, saya sms temanku, otim, yang mau ikut ke Jogja, untuk datang ke rumah jam 07.00 pagi. Sampai di rumahku (Selandaka, Sumpiuh, Banyumas) pukul 06.15. Kami istirahat sejenak sambil nunggu Otim. Pukul 07.00 tepat, Otim datang naik motor.

Pukul 08.00 pagi, perjalanan dilanjutkan ke Jogja. Kami, _saya, Putut dan Otim_ bertiga naik bis “Aman” menuju terminal bis Jogja. Tujuan utama kami adalah menghadiri pernikahan Mba Iin di Gunung Kidul. Mungkin karena kecapean, Putut langsung tertidur, setelah beberapa saat bis berjalan. Sementara saya nemenin Otim baca novelet “Sebuah Janji untuk Istriku”. Seru. Kita berdialog tentang cerita, tokoh dan apa yang terjadi dalam novelet tersebut. Tak terasa satu buku habis dibaca. Ada desir mendera di dada ini. Ada janji yang terukir di hati ini.

Sampai di Jogja pukul 12.25. Wadhuh… hari Jumat lagi. Blum sholat jumat. Langsung menuju ke masjid di terminal, tapi kayaknya gak dapet dech. Kami sholat di masjid dan foto-foto sebentar. Karena perut sudah teriak-teriak, jadinya kami makan dan minum dulu. “Indomie dua, es teh satu, es jeruk satu dan fruitea satu ya mas..”.

Selanjutnya, pukul 13.30 kami naik bis jurusan Jogja-Solo. Turun di Galwas (atau Galmas yach?). Nah, sampai di situ bingung dech, mo naik apa. Seorang tukang delman yang sudah cukup berumur mendekat dan tanya mau kemana. Kita jawab aja mau ke Gedhang Sari. Setelah ngobrol dan tawar menawar dengan tukang delman, akhirnya kita sepakat untuk dianterin dengan delman ke tempat tujuan. Seru juga. Di tengah perjalanan kita bertiga tertawa kegelian. Apalagi pas delman yang kita naiki ketemu sama delman lain. Kudanya seolah kesengsem sama kuda delman tersebut. Kuda delman yang kita naiki seperti mengejarnya, hingga penumpang yang naik di delman satunya ketakutan. Hihihihi…. trus kudanya jalannya aneh, sampe-sampe mau nabrak orang yang lagi naik sepeda. Otim pun teriak ketakutan dibuatnya. Hehe2x. Ada kelucuan di sana.

Delman hanya mengantar kita sampai ke daerah Gempol. Kita bertiga melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek “dadakan”. Sempet berdebat juga soal harga dan tempat yang dituju. Setelah bertanya beberapa kali ke penduduk, dan juga nyasar ke sana kemari, akhirnya sampai juga di tempat Mba Iin. Jam hampir menunjukkan pukul 16.00 sore.

Salam sana salam sini, trus makan-makan, trus foto-foto, trus ngobrol-ngobrol deh. Tiba-tiba mba iin begitu ceria dengan kedatangan kita. Mba iin minta kita nginep di tempatnya karena hari sudah sore. Lalu kita adakan rapat pleno tertutup. Saya, putut dan otim. Mencari jalan keluar, mau nginep atau melanjutkan perjalanan ke tempat simbah putut. Akhirnya keputusan disepakati bahwa kita akan nginep dengan catatan, pagi harinya minta anterin sama mba iin ke bawah.

Sore menjelang maghrib, kita mandi di tempat pemandian umum. Seru juga. Mandi dengan air segar pegunungan. Malam hari ikut acara jejer-pengantin. Foto-foto juga. Seru. Acara selesai jam 23.00 malem. Kita sempet ngobrol-ngobrol. Mata terasa berat. Saya ngobrol sama mba iin sampai jam 01.00 dini hari. Sementara putut sudah terlelap dalam mimpinya. Menjelang tidur, otim mengingatkan untuk bangunin pagi-pagi. Ada getar kasih sayang di sana.

(bersambung)

Acara Jejer Mba Iin

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main